Sarmuji menyebut survei sebagai salah satu gambaran mengenai posisi partai di mata pemilih pada saat pengukuran dilakukan. Ia membandingkan angka 10,4 persen itu dengan survei Poltracking pada Agustus 2022 yang mencatat Golkar di angka 9,5 persen.

Menurutnya, masih tersedia waktu bagi partai untuk memperkuat kerja politik dan membangun kedekatan dengan masyarakat menjelang Pemilu 2029. Ia juga menyatakan setiap periode pemilu menghadirkan tantangan berbeda sehingga pendekatan partai perlu disesuaikan.

Poltracking melaksanakan survei nasional pada 14–20 Agustus 2026 melalui wawancara tatap muka terhadap 1.200 responden yang tersebar di 38 provinsi.

Survei menggunakan metode multistage random sampling dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sekitar plus-minus 2,9 persen.

Dalam hasil yang dipublikasikan, Gerindra berada di angka 23,2 persen, PDIP 11,6 persen, dan Golkar 10,4 persen. Setelahnya terdapat PKB 6,2 persen, Demokrat 6,1 persen, NasDem 4,4 persen, PAN 3,4 persen, dan PKS 3,3 persen.

Angka survei tersebut merupakan potret pada periode pengumpulan data dan bukan hasil pemilu. Perubahan preferensi pemilih masih dapat terjadi seiring dinamika politik, kinerja partai, serta perkembangan isu publik menuju 2029.