Pelantikan berlangsung di Istana Negara, Jakarta, pada 1 Oktober 2026. Dalam perombakan kabinet tersebut, Bahlil Lahadalia mendapat penugasan sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus tetap memegang jabatan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
Muhammad Sarmuji dilantik sebagai Menteri Perindustrian menggantikan Agus Gumiwang Kartasasmita. Dengan demikian, dua jabatan pimpinan utama DPP Partai Golkar, ketua umum dan sekretaris jenderal, sama-sama diemban oleh pejabat yang juga berada dalam kabinet.
Setelah pelantikan, Sarmuji menyampaikan bahwa tugas di Kementerian Perindustrian merupakan amanah yang berat karena sektor industri diharapkan menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka lebih banyak lapangan kerja.
Ia menekankan perlunya mengidentifikasi persoalan di berbagai sektor industri dan menyelesaikannya secara bertahap. Industri yang memiliki kemampuan menyerap tenaga kerja dan memberikan efek berganda terhadap perekonomian disebut perlu mendapat perhatian utama.
Penugasan Bahlil sebagai Menko Hilirisasi dan Transisi Energi memperluas koordinasi kebijakan yang berkaitan dengan hilirisasi dan energi. Sementara itu, Sarmuji mengambil tanggung jawab pada kebijakan industri nasional.
Kedua penugasan tersebut memperlihatkan irisan antara tanggung jawab pemerintahan dan jabatan organisasi partai. Pelaksanaan tugas publik tetap berada dalam kerangka kewenangan kementerian masing-masing dan dapat dinilai melalui kebijakan serta hasil kerja pemerintahan.
